Category Archives: Indonesia

Pindad Siap Jadi Pemasok Amunisi Leopard

20 November 2014

Amunisi 120mm untuk MBT Leopard 2 (photo : defense update)

REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG–PT Pindad Persero siap menjadi pemasok amunisi tank tempur utama atau Main Battle Tank (MBT) Leopard buatan Jerman dengan kaliber besar 120 milimeter.

“Kita sudah membeli tank Leopard dari Jerman. Makanya, kita siap menjadi pemasok amunisi tank Leopard. Strategi bisnis kita ubah, siapa saja di Asia yang punya (Leopard), butuh berapa? Kita telah mengirimkan 7 tenaga ahlinya ke Jerman dalam rangka bagian transfer of technology (ToT),” kata Kepala Divisi Munisi PT Pindad I Wayan Sutama di kantornya, Turen, Malang, Jawa Timur, Rabu (19/11).

Guna mempersiapkan pembuatan amunisi berkaliber besar seperti tank Leopard, Pindad telah menyiapkan lahan seluas tiga hektare di Gunung Layar, Malang. Namun dirinya belum bisa memastikan apakah Pindad akan membuatnya secara keseluruhan atau hanya perakitan.

“Kami sedang menggeliatkan, membantu pemerintah, untuk mengurangi impor di bidang amunisi. Ini harapan saya jangan sampai devisa kita terkoyak ke luar. Kami sudah berhasil mendesain meriam Howitzer 105 mm,” ujar Wayan.

Menurut Wayan, teknologi laras smoothbore yang diaplikasikan pada Leopard merupakan teknologi baru yang harus melalui alih teknologi agar pengembangan peluru untuk tank 62 ton itu bisa sesuai harapan.

“Tak hanya dalam negeri, jika pasokan peluru untuk Leopard telah terpenuhi, Pindad juga mengincar pasar Asia yang menggunakan Leopard. Pangsa pasar munisi tank Leopard di Asia masih terbatas, hanya ada Singapura dan Indonesia serta Australia,” kata Wayan.

Pindad telah memiliki fasilitas pembuatan munisi kaliber besar dan munisi kaliber besar roket di Malang. Industri plat merah ini menargetkan pada tahun 2019 sudah bisa memproduksi kaliber 76 mm, 90 mm dan 105 mm yang memang banyak digunakan oleh pasar internasional dengan keuntungan yang menjanjikan.

“Tapi Pindad harus memenuhi kebutuhan TNI lebih dulu, baru lebihnya bisa diekspor,” kata Wayan.

Wayan menerangkan, ke depan, Indonesia jangan sampai bergantung impor. Saat ini perusahaan sedang meningkatkan kualitas dan kuantitas produk alutsista dan menargetkan akan menjadi produsen alutsista terkemuka di Asia pada 2023.

“Kita sudah melaksanakan peningkatan kemampuan produksi dan kemampuan desain serta kapasitas produksi sudah direncanakan tiga tahun. Jadi per 2015, 2019, dan 2023 itu visi Pindad tahun 2023 kita akan menjadi industri alutsista terkemuka di Asia. Karena, kan, setiap tahun desain-desain atau memang kebutuhan dari TNI itu di-review kembali. Hal itu senada dengan UU No 16/2012. Makanya, kami memiliki target, tahun 2023 Indonesia mampu memuncaki industri pertahanan di kawasan Asia,” katanya.

Pindad terus memproduksi munisi kaliber kecil yang biasa digunakan untuk pistol, senjata laras panjang, hingga senapan serbu. Untuk memperbanyak jumlah produksi munisi kecil ini, Pindad telah mendatangkan mesin baru dengan teknologi termutakhir.

“Yang munisi kaliber kecil sifatnya umum. Kita sudah memiliki penambahan kapasitas untuk memberi mesin-mesin produksi yang modern. Apabila semua terpasang di 2015, saya bisa melipatgandakan kapasitas produksi kaliber kecil, 140 juta butir per tahun,” ujar Wayan.

(Republika)

View the Original article

Comments Off

Filed under Indonesia

Krakatau Steel Pasok 98 Persen Baja Militer

22 November 2014

Panser Anoa buatan Pindad saat Peringatan HUT TNI Ke-69 di Dermaga Ujung Armada RI Kawasan Timur (Armatim), Surabaya, Selasa (7/10). Sebanyak 526 alat utama sistem persenjataan (alutsista) dikerahkan pada TNI kali ini antara lain 192 unit alustsista dari TNI AD, 195 alutsista dari TNI AL, dan 139 pesawat dari TNI AU. (photo : Viva)

Jakarta, CNN Indonesia — PT Krakatau Steel memperbarui kerjasama suplai baja khusus militer dengan PT Pindad. Perjanjian itu ditandatangani di sela kegiatan Indo Defence 2014 di Kemayoran, Jakarta, Rabu (5/11). Sebanyak 98 persen bahan baku pembuatan peralatan militer berasal dari perusahaan baja itu.

Presiden Direktur Krakatau Irvan K. Hakim mengatakan penandatanganan itu adalah pembaruan kerjasama yang sudah berlangsung selama beberapa tahun terakhir. 

“Ini dilakukan dalam rangka menyambut kebutuhan besar untuk alutsista TNI dan kepentingan pertahanan nasional dari Kementerian Pertahanan,” kata Irvan. 

Irvan mengatakan 98 persen bahan baku baja untuk pembuatan kapal cepat rudal TNI, panser buatan Pindad, dan kapal logistik Kementerian Pertahanan, dipasok oleh Krakatau Steel. 

Jadi kami merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Komite Industri Pertahanan. Dalam hal ini, kami bertindak sebagai supplier bahan baku untuk industri ini,” kata Irvan kepada CNN Indonesia.

Irvan menjamin kualitas produksi baja untuk Pindad selalu di bawah pengawasan ketat baik Kementerian Pertahanan dan harus memenuhi standar kualitas NATO. Baja khusus Pindad adalah jenis armor steel yang tidak bisa diperjualbelikan secara bebas.  

Untuk memproduksi baja yang antipeluru itu, Krakatau membangun fasilitas produksi tersendiri. “Standar kualitas bukan sesuatu yang bisa ditawar-tawar,” katanya. 

Penandatanganan kerjasama dilakukan oleh Irvan dan Pelaksana Tugas Direktur Utama Pindad Tri Hardjono.

(CNN)

View the Original article

Comments Off

Filed under Indonesia

Gandeng Pabrikan Swedia, Pindad Bakal Kuasai Teknologi Rudal

08 November 2014

Rudal RBS 70 adalah sebuah sistem pertahanan udara portabel jarak pendek berpemandu laser yang dirancang untuk bisa beroperasi di segala cuaca (photo : Defense Studies)

Liputan6.com, Jakarta – PT Pindad melakukan kerjasama dengan produsen senjata internasional, yakni pabrikan peluru kendali (rudal) asal Swedia, SAAB Dynamic AB. PT Pindad adalah pembuat kendaraan dan alat tempur yang digunakan oleh TNI maupun Polri.

Kerjasama PT Pindad dan SAAB Dynamic ini dilihat langsung oleh Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu di area Indo Defence 2014, Kemayoran, Jakarta pada 06 November kemarin.

Perjanjian kerjasama tersebut meliputi pengembangan dan peremajaan sistem pertahanan udara berbasis darat RBS 70 Mk2 TNI Angkatan Darat. Selain itu, turut dibicarakan kerjasama jangka panjang terkait pemberian transfer of technology (ToT) sistem dan rudal RBS 70 Mk2 sesuai Undang Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan.

“Pasti kami mengikuti UU Nomor 16 Tahun 2012, kami akan mengikuti arah kebijakan industri pertahanan Indonesia. Saya yakin SAAB akan melihat ini mulai dari fase-fase teknologi mulai pemeliharaan hingga pembangunan roket nasional. SAAB akan membantu teknologi Indonesia,” Ucap  Michael Hoglund, Deputy Head of Marketing & Sales-Missile Systems SAAB Dynamics dalam Media Gathering di Jakarta, Kamis (06/11/2014).

Di tempat yang sama, PT Pindad sangat berterima kasih kepada SAAB Dynamic karena membantu kemandirian industri pertahanan Indonesia. Program ToT ini diharapkan dapat membantu kemajuan teknologi sistem pertahanan udara nasional.

“Sementara ini teknologi roket belum kita kuasai apalagi teknologi optiknya, kontrolnya, stabilitasnya. Roket indonesia baru sampai roket meluncur saja nanti ke sana akan kita kuasai. Nanti bisa meliputi misil RBS 70 Mk2, New Batteries of RBS 70 Mk2, serta integrasi misil dengan sub sistem kendaraan tempur. Untuk detailnya nanti akan dirumuskan dalam perjanjian selanjutnya,” ungkapnya.

Dalam kolaborasi ini, PT Pindad menjadi kontraktor utama dan SAAB Dynamic AB menjadi sub-kontraktor. PT Pindad yakin pangsa pasar RBS 70 Mk2 masih ada, untuk itu mereka akan giat mempelajari teknologi ini.

“Masih (pangsa pasar), nanti kalau kita sudah kuasai teknologi itu pangsanya sudah ada tidak hanya di Indonesia kan, masih banyak di negara lain Asia bisa juga,” harap Pria berkaca mata ini.

Rudal RBS 70 adalah sebuah sistem pertahanan udara portabel jarak pendek atau MANPADS (Man Portable Air Defence System) buatan Swedia yang dirancang untuk bisa beroperasi di segala cuaca. Untuk jarak jangkau, RBS 70 Mk2 bisa mencapai 8 kilometer dan melesat hingga ketinggian 4.000 meter. Kecepatan RBS 70 Mk2 yakni 2 Mach dengan sistem pemandu laser.

Selain TNI, tentara negara lain seperti dari Argentina, Brazil, Jerman, Singapura, Thailand, dan masih banyak negara lain menggunakan RBS 70 untuk menjaga pertahanan udara mereka. 

(Liputan6)

View the Original article

Comments Off

Filed under Indonesia

Indonesia Targets Shipbuilding Collaboration with France, Germany

17 November 2014

Indonesia to increase naval shipbuilding collaboration with France and Germany (photo : DCNS)

Indonesia has outlined its intention to increase naval shipbuilding collaboration with France and Germany as part of the southeast Asian country’s continuing drive to become a modern maritime power.

Indonesia’s state news agency Antara reported on 16 November that President Joko Widodo met separately with French President Francois Hollande and German Chancellor Angela Markel at the G20 Leaders Summit in Australia to discuss maritime industrial co-operation.

Cabinet Secretary Andi Widjajanto said Indonesia and France had agreed to establish a working group to explore areas of shipbuilding collaboration. With regards to Germany, he added that industrial links would continue in the land systems sector but that “in the wider defence industry both sides will co-operate on what can be done within the maritime [sector]”.

(Jane’s)

View the Original article

Comments Off

Filed under Indonesia

Badak Armed Vehicle Makes Debut at Show

06 November 2014

Badak 6×6 with 90mm cannon (photo : Pindad)

Local company PT Pindad (Hall D, Stand 061) has teamed with CMI Defence of Belgium to develop the Badak (6×6) direct fire platform to meet the potential future operational requirements of the Indonesian Army.

Badak features a new design all-welded monocoque steel hull that leverages from the current production Anoa (6×6) armoured personnel carrier (APC), of which more than 100 have now been built for Indonesia.

The layout differs from that of the Anoa APC, with the power pack located front left and the driver seated towards the front on the right side, leaving the remainder of the hull clear for the installation of the turret.

The powerpack consists of a 340hp diesel engine coupled to an automatic transmission, giving a maximum road speed of 90km/h. The steel armour hull provides protection up to STANAG 4569 Level 3, which is against attack from 12.7mm machine gun fire.

The vehicle is fitted with double wishbone suspension to provide for increased mobility and improved stability when engaging targets.

Direct firepower is provided by the installation of the CMI Defence CSE 90LP two-person turret, which has been produced in large quantities and can be fitted with various types of fire control system.

This is armed with a CMI Defence 90mm low-pressure rifled gun, which can fire a wide range of ammunition. In addition, there is a 7.62mm co-axial machine gun, with another 7.62mm machine gun mounted on the left side of the turret roof for use in the self-defence and air defence roles, plus banks of 76mm grenade launchers.

The baseline turret is provided with protection to STANAG 4569 Level 1, but can be upgraded to Level 4 if required by the customer.

(Jane’s)

View the Original article

Comments Off

Filed under Indonesia

RI – Turki Tanda Tangani Kerjasama “Join Development and Production” Prototipe Medium Tank

07 November 2014

1 prototpe tank medium akan dibuat di Pindad mulai akhir tahun 2014 dan ditargetkan selesai pada tahun 2017 (image : istimewa)

Jakarta, DMC – Dalam rangka meningkatkan hubungan kerjasama di bidang pertahanan antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Republik Turki, Kamis (7/11) disela-sela kegiatan Indo Defence 2014 Expo & Forum di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kementerian Pertahanan (Kemhan) kedua negara menandatangani kerjasama “Join Development and Production” (pengembangan dan produksi) prototipe Tank kelas Medium.

Penandatanganan Kerjasama Joint Development and Production Medium Tank dilakukan oleh Sekretaris Ditjen Pothan Kemhan, Brigjen TNI Santoso dengan Kepala Departemen Kerjasama Internasional SSM Turki, Abdullah Erol Aidin serta disaksikan Dirjen Potensi Pertahanan, Dr. Timbul Siahaan, MM dan Duta Besar Republik Turki untuk Indonesia Zakeriya Akcam.

Sebagai bentuk implementasi dari kerjasama “join Development and Production” Tank kelas Medium ini, kedua negara membangun 2 (dua) unit Prototipe Tank kelas Medium. Proyek ini akan dimulai akhir tahun 2014 dengan melibatkan industri pertahanan FNSS Turki dan PT. Pindad dengan kisaran waktu penyelesaian proyek 3 tahun. Rencananya dari 2 (dua) prototipe tersebut, 1(satu) unit akan di produksi di FNSS Turki dan 1 (satu) unit diproduksi di PT Pindad, Bandung. Setelah itu PT Pindad diharapkan sudah mulai bisa mandiri memproduksi hasil karya terbaru Tank Medium yang sesuai dengan kebutuhan yang diajukan oleh TNI AD.

Adapun spesifikasi tekhnis yang akan melengkapi desain Tank Medium nantinya akan ditentukan dengan keinginan pengguna dalam hal ini TNI AD. Namun secara umum dari segi persenjataan akan dilengkapi laras / canon turret dengan ukuran 90-105 mm dan berat 20 hingga 40 ton per unitnya.

Pada kesempatan tersebut Dirjen Pothan Kemhan RI, Dr. Timbul Siahaan, MM mengatakan setelah penandatanganan, Pemerintah Indonesia akan mengirimkan personel gabungan dari Kemhan, TNI AD dan PT Pindad untuk mempelajari pembuatan Tank Medium tersebut.

Lebih lanjut Dirjen Pothan menyebutkan beberapa keuntungan dari kerjasama Join Development bagi Indonesia, yakni dari konteks kemandiriannya PT. Pindad diharapkan dapat mengembangkan teknologi persenjataannya. Oleh karena itu menurut dirinya dibutuhkan suatu kerjasama melalui Transfer of Technology dan Offset dengan negara lain yang sudah mampu dan punya pengalaman. Sehingga kemandirian PT. Pindad bisa lebih didorong dalam pemenuhan kebutuhan pengguna peralatan yaitu TNI. “PT Pindad menginginkan peningkatan teknologi produksi, yang semula hanya membuat Panser dan ingin menjadi membuat Tank kelas Medium,” ungkap Dirjen Pothan.

Sementara itu bagi pemerintah Turki pembangunan prototipe Tank Medium ini merupakan kerjasama dengan teknologi tinggi yang nyata untuk pertama kalinya dilaksanakan dengan Indonesia. Selain itu juga kerjasama ini dijadikan sebagai pengembangan kolaborasi sumber daya kedua negara.

Terkait pemilihan Strategic Partnership dalam pembuatan Tank Medium dengan negara Turki, Dirjen Pothan menilai Turki memiliki industri pertahanan (FNSS) telah memiliki kemampuan memproduksi sendiri Tank jenis Medium dengan teknologi yang memadai. 

(DMC)

View the Original article

Comments Off

Filed under Indonesia

Proyek KFX/IFX Masuki Tahap Engineering and Manufacturing Development (EMD)

09 Oktober 2014

Pesawat KFX/IFX C-103 (photo : pgtyman)


Proyek Pesawat Tempur Canggih KFX Dipastikan Berlanjut

Jakarta -Kementerian Pertahanan (Kemhan) bekerja sama dengan Korea Selatan dalam pengembangan di bidang industri pertahanan.

Melalui program Defense Acquisition Program Administration (DAPA), kedua pihak sepakat melanjutkan proyek pesawat tempur modern KFX/IFX dengan teknologi generasi 4,5.

Bagi Pemerintah Indonesia program kerja sama ini dilaksanakan sebagai upaya untuk bridging ke arah kemandirian pemenuhan kebutuhan pesawat, sekaligus mendongkrak kekuatan TNI AU dan meningkatkan daya tawar Indonesia dalam kancah Internasional. “Melalui Program KF-X/IF-X, Pemerintah Indonesia bersama Pemerintah Korea Selatan akan mampu mengembangkan pesawat tempur multifungsi canggih yang berkemampuan di atas pesawat tempur F-16,” tulis siaran pers Kemhan yang diterima SP, Selasa (7/10).

Dalam riilis tersebut disebutkan, ada tiga tahapan dalam program kerja sama proyek KFX/IFX yakni Technology Development Phase (TD Phase), Engineering and Manufacturing Development (EMD Phase) dan Production Development. TD Phase telah rampung sejak Desember 2012 lalu dan kini tengah memasuki EMD Phase. EMD Phase diawali dengan kesepakatan Project Agreement (PA) yang baru saja ditandatangani oleh Dirjen Pothan Kemhan,Timbul Siahaan dan Dirjen Aircraft Program DAPA, Brigadier General (Air Force), Jung, Kwan Sun yang berisi prinsip dan aturan umum serta komitmen para Pihak selama EMD Phase.

PT Dirgantara Indonesia ditunjuk sebagai workshare dari pihak Indonesia yang selanjutnya akan menyusun perjanjian bersama dengan costshare dan kontraktor utama, yakni Pemerintah Korea Selatan. Diharapkan semua agreement sudah bisa ditandatangani pada akhir November 2015 dan program EMD sudah siap untuk dimulai.

“Salah satu kesepakatan yang dibuat adalah Indonesia –  Korea Selatan akan membentuk Joint Program Management Office (JPMO) untuk pelaksanaan Project Agreement (PA) tersebut termasuk mengawasi Korean Industial Participant (KIP) dan Indonesian Industial Participant (IIP), penganggaran serta pengeluaran/belanja, kompetensi, tugas dan fungsi,” papar Kemhan.

Besaran pembagian kerja (workshare) disepakati sebesar 80-20 persen dan kedua belah pihak sepakat bila ada tambahan anggaran harus disetujui keduanya. Nantinya Indonesia akan melaksanakan final assembly dan akan membangun production line dengan biaya sendiri.

Dalam scope of cooperation, pihak Korea mengkonfirmasikan bahwa 6 pesawat akan melakukan flight test di Korea dan 1 Prototype akan diberikan ke Indonesia untuk dilaksanakan final assembly, test and evaluation kembali. Pihak Korea akan menyerahkan satu prototipe Pesawat KF-X/IF-X setelah seluruh uji terbang diselesaikan dan dengan beberapa catatan, yaitu engineer dan test pilot Indonesia akan terlibat secara aktif dalam proses produksi prototipe dan uji terbang seluruh prototipe.

Sedangkan untuk penyiapan produksi prototipe dalam fase EMD akan dibahas lebih lanjut termasuk tentang penyiapan lini produksi dan final assembly pesawat di Indonesia serta kapan rollout dari first article pesawat akan diluncurkan.

(Berita Satu)

View the Original article

Comments Off

Filed under Indonesia