Category Archives: Indonesia

Pindad Akan Luncurkan Panser Anoa Versi Terbaru

18 Agustus 2014

Turret panser Pindad akan menggunakan kanon buatan Rheinmetall Defence (photos : Rheinmetall)

Dimulai pada 1808 sebagai bengkel untuk pengadaan, pemeliharaan, dan perbaikan alat-alat perkakas senjata Belanda bernama Contructie Winkel (CW) di Surabaya, kini perusahaan yang berganti nama PT Pindad ini telah prestasi baik tingkat nasional hingga Internasional. Perusahaan di bawah naungan Kementerian BUMN ini telah membantu hasilkan alat utama sistem senjata (alutsista) bagi pertahanan negara.

Salah satunya kendaraan taktis (rantis) atau Panser Anoa 6×6 yang telah diproduksi sebanyak ratusan unit dan tersebar di Indonesia maupun negara lain. Kepuasaan pelanggan membuat rantis yang terdiri 5 varian yakni Armored Personnel Carrier (APC), Ambulance, Logistic, Recovery dan Remote Control Weapon System (RCWS) ini tidak pernah luput dari permintaan.

Karena kepercayaan tersebut, PT Pindad kembali meluncurkan varian baru. Panser ini menggunakan Kanon 20 mm dengan turret buatan industri pertahanan asal Jerman, Rheinmetall.

“Iya kita kerjasama dengan Rheimentall, karena selain dengan turret kanon sendiri yang sangat menjanjikan itu di munisinya. Nah munisinya sekalian, kita kerjasama. Mudah-mudahan minggu-minggu ini akan ditampilkan,” Ucap Direktur Ops Produk Hankam PT Pindad, Tri Hardjono di kantornya, Bandung, Jawa Barat, Minggu (17/08/2014).

Tri menjelaskan, kerjasama PT Pindad dengan Rheinmetall sudah dilakukan sejak lama. Panser Anoa tipe Kanon ini mengadopsi desain otomotif yang lebih baik dari varian sebelumnya.


“Kita sudah melakukan pengujian penembakan, sekarang sedang dilakukan perbaikan di sisi otomotifnya. Karena menggunakan suspensi sedikit baru dibandingkan versi sebelumnya ini sedang dilakukan perbaikan di sistem kemampuan dan daya muat,” tambahnya.

Menurut Tri, ancaman perang saat ini sudah berubah doktrinnya. Penggunaan senjata dengan daya jangkau lebih jauh menjadi trend ke depan. Untuk itu pihaknya melakukan pengembangan ke varian sebelumnya termasuk menambah peluru kendali pada Panser buatannya.

“Ini Anoa varian Kanon jadinya, Ada permintaan dari user terutama di Infanteri mekanik itu harapannya dilengkapi dengan Kanon di atas 20 mm. Saya juga bicara dengan pengguna, dia mengatakan sekarang musuh datang dari cukup jauh, artinya kita harus bisa menembak dengan cukup jauh. Semua ditingkatkan harapannya infanteri juga punya daya tembak lebih jauh, kemudian arhanudnya juga demikian, jadi alat-alat perangnya harus diperbaiki,” jelas pria berkacamata ini.

“Sebenarnya sekarang itu, Kanon yang dimintain itu Kanon berkaliber kecil seperti 20, 30, 35 mm. Itu karena lebih ringan. Kemudian kendaraan lebih ringan. Di sebelahnya akan dipasangin rudal. Kalau nembak kendaraan besar ya pakai rudal,” ucap Tri.

Dalam pengembangan ini, PT Pindad tidak sendiri. Selain menggandeng mitra dari luar negeri, sejumlah perusahaan Tanah Air baik negeri maupun swasta turut membantu mengembangkannya.

“Ini sudah menggunakan system automatic, yang mahal di sistem senjata adalah sistem penembakannya. Nah ini yang harus kita kuasai dan Pindad untuk sementara belum masuk di elektronik dan optiknya. Ini akan didukung oleh instansi lain seperti BPPT, PT Inti, PT Len, dll,” imbuh Tri.

(Liputan6)

View the Original article

Comments Off

Filed under Indonesia

Tank AMX-13 Retrofit Pindad Siap Unjuk Kemampuan

19 Agustus 2014

Tank AMX-13 hasil retrofit (photo : Indomiliter)

BANDUNG, suaramerdeka.com – Sebanyak 10 tank AMX-13 hasil retrofit PT Pindad siap unjuk kemampuan pada rangkaian HUT TNI, 5 Oktober mendatang. Tank buatan Prancis itu akan tampil “manglingi” karena sudah dipermak fiturnya sehingga lebih gahar.

Menurut Direktur Utama PT Pindad, Sudirman Said di sela-sela Lomba Menembak Agustusan di Bandung, Minggu (17/8), retrofit yang merupakan tugas dari Kemenhan itu menyasar tank dengan populasi besar.

“Kami akan menyelesaikan retrofit Tank AMX, tank dengan populasi besar sekitar 400-an di Tanah Air. Kecuali body-nya, semua komponennya diperbaharui,” jelas pria kelahiran Brebes itu.

Direktur Operasi Produk Pertahanan dan Keamanan, Tri Hardjono menambahkan, keseluruhan tank yang di-retrofit pada tahap pertama sebanyak 13 unit. Sepuluh di antaranya minta ditampilkan pada hari jadi TNI guna diperkenalkan. “Rencananya, akhir tahun diserahkan. Meski demikian, semua unit yang kita perbaharui telah memperoleh sertifikat lulus pengujian dari Dislitbang AD,” katanya.


Usai disegarkan, tank yang termasuk alutsista sepuh itu berubah menjadi tank modern. Tak lagi mekanik, sistem penggeraknya sudah elektronik. Alat tempur tersebut juga bisa mengadopsi amunisi terbaru.

“Kita barukan sistem automotif-nya, transmisi dan enginennya sehingga memiliki kemampuan tank modern, dan paling utama sistem persenjataannya,” jelas direktur yang berasal dari Purworejo itu.

Dengan sentuhan tersebut, tank kelas ringan itu mampu bermanuver sangat lincah. Di tubuhnya tertanam mesin Navistar asal AS berkekuatan 320 HP yang sanggup melaju hingga 70 Km per jam.

Tak hanya itu, tank AD tersebut juga sanggup melahap beragam medan. Hal itu merujuk pada hasil pengujian di trek Jabar selatan yang lengkap termasuk kualifikasi offroad. Di kawasan Sukabumi, tank itu sudah melalui uji pasir, uji pantai, dan tanjakan.

Untuk melindungi sekaligus kemampuan menyerang, ukuran cannon-nya pun diubah. Dari semula 75 mm menjadi 105 mm. Presisinya pun semakin akurat karena digerakan secara elektronik.

“Dengan perubahan itu, AMX-13 memiliki  daya jangkau yang lebih jauh. Daya tembak jauh lebih besar, dan bisa digunakan untuk amunisi modern,” jelas Tri Harjono yang sempat menjadi Pjs Dirut Pindad itu.

(Suara Merdeka)

View the Original article

Comments Off

Filed under Indonesia

Indonesia`s Aviation Manufacturer Secures Orders to Build 100 N219 Aircraft

14 Agustus 2014

N-219 light lift aircraft (photo : Inilah)

Jakarta (ANTARA News) – The Indonesian aviation manufacturing company PT DI has received orders for the production of 100 N219 aircraft, Research and Technology Minister Gusti Muhammad Hatta stated.

“PT DI in cooperation with LAPAN is building N219s. Four aircraft of that type will be assembled and completed by April 2015,” the minister noted here on Tuesday.

PT DI is manufacturing the aircraft in cooperation with other agencies apart from the National Aeronautics and Space Agency (LAPAN).

Besides LAPAN, the Indonesian aircraft manufacturer has also involved the Ministry of Research and Technology, the Agency for Assessment and Application of Technology (BPPT), and the Ministry of Industry.

So far, PT DI has received orders for the construction of 100 N219 aircraft from a national airline, he reported.

For the construction of the N219 aircraft, PT DI created airplane mock-ups, prepared material, and the required specifications to make flight engineering models and simulators.

LAPAN has the task of working on the design and development of the N219 aircraft. 

A total of 28 researchers had worked with the Indonesian airplane industry, which was launched on March 12, 2014, especially in the fields of avionics, electronics, propulsion, engineering, flight simulators, aerodynamics, and structural analysis, according to information from PT DI. 

In this project, BPPT had conducted assessment of the aircrafts aerodynamics and structure.

The Ministry of Industry has developed the support industries and has created industrial clusters for the production of the N219 aircraft.

The N219 aircraft were designed by Indonesians and were developed with about 60 percent indigenous technology, Industry Minister M.S. Hidayat earlier stated.

(Antara)

View the Original article

Comments Off

Filed under Indonesia

Lockheed Martin Announces Indonesian Radar Industry Initiative

06 Agustus 2014

AN/TPS-77 air surveillance radar (photo : militaryphotos)

JAKARTA, Indonesia/PRNewswire/ — Lockheed Martin (NYSE: LMT) has launched an Indonesian radar industry initiative as part of its efforts to support the country’s plans to modernize and extend its air surveillance coverage.

This initiative includes technology transfers to aid in the development of a new Indonesian radar industry, as well as partnerships with local universities to cultivate the workforce necessary to support it. Enhancing Indonesia’s ability to make critical radar components will reduce the nation’s reliance on foreign suppliers, while providing employment opportunities for its citizens.

“Lockheed Martin is committed to supporting Indonesia and its defense industry revitalization plans,” said Robert Laing, National Executive, Lockheed Martin, Indonesia. “Our goal is to create a new technology sector and associated jobs to ensure a sustainable industry in Indonesia.”

Lockheed Martin has worked with the Bandung Institute of Technology (ITB) to produce an engineering curriculum focused on radar technologies. Similar programs, along with ongoing technical seminars and education opportunities, are training future leaders in the development of this technology. The Corporation also has established an Indonesia-based manufacturing capability with local companies, which have begun producing radar components.

Lockheed Martin is competing for Indonesia’s Ground Control Intercept (GCI) radar program. Should the company be selected for this opportunity, it would provide significant new employment possibilities for its local industry partners, estimated at up to 2 million labor hours over the lifetime of these radars. These Indonesian partners would be capable of producing nearly $100M (USD) of radar components per year.

Lockheed Martin’s extensive air surveillance radar experience can help Indonesia ensure a safe and secure airspace for both civilian air traffic and national sovereignty for many years to come. Lockheed Martin has produced and currently maintains more than 200 air surveillance radars in 30 countries. Operational around the world 24 hours a day, these radars work completely unmanned and many have performed for decades in extremely harsh, remote environments. None of these radars has ever been taken out of service, and many systems continue to operate well beyond their original 20-year service lives. This longevity is a result of Lockheed Martin’s continuous investment in state-of-the-art technology and its commitment to customer missions.

Headquartered in Bethesda, Maryland, Lockheed Martin is a global security and aerospace company that employs approximately 113,000 people worldwide and is principally engaged in the research, design, development, manufacture, integration and sustainment of advanced technology systems, products and services. The Corporation’s net sales for 2013 were $45.4 billion.

(PRNewswire)

View the Original article

Comments Off

Filed under Indonesia

Pindad dan Rheinmetall Denel Munition (RDM) Sepakat Produksi Amunisi Tipe Besar

07 Agustus 2014

Amunisi yang akan dibuat oleh Pindad dan RDM adalah amunisi ukuran 30mm hingga 105 mm (photo : nildram)

Pindad dan Produsen Senjata Afsel Bikin Pabrik Amunisi di Malang

Jakarta -PT Pindad (Persero) sebagai produsen produk pertahanan plat merah menjalin kerjasama dengan produsen senjata asal Afrika Selatan Rheinmetall Denel Munition (RDM). Kedua perusahaan ini akan membangun fasilitas produksi amunisi ukuran besar di Malang, Jawa Timur.

Direktur Utama Pindad Said Sudirman mengatakan, tahap awal kedua belah pihak akan melakukan perencanaan detil. Kerjasama ini ditandai dengan Memorandum of Understanding (MoU) kedua belah pihak.

“MoU ini sebagai dasar bagi kami berdua untuk melakukan detail plan (perencanaan detil) terkait pengembangan industri amunisi,” kata Sudirman usai penandatanganan MoU di Hotel Shangri-La, Jakarta, kamis (7/8/2014).

Penandantanganan MoU ini dilakukan oleh Sudirman Said dan Chief Executive Offixer RDM Nobert Shulze.

Sudirman mengatakan, kerjasama ini akan menjadi babak baru perkembangan industri amunisi tanah air yang sudah dikembangkan Pindad selama ini. Kerjasama ini juga menurutnya berpeluang terus dikembangkan untuk memproduksi berbagai jenis amunisi. 

Namun untuk langkah awal, jenis amunisi yang akan dikembangkan adalah khusus yang berukuran besar.

“Rekan kami memiliki pengalaman yang sangat panjang di bidang amunisi jadi mungkin banyak hal yang bisa dikerjakan. Tetapi pertama kami akan kembangkan untuk amunisi ukuran besar,” sebutnya.

Dalam kesempatan yang sama, Nobert mengatakan, pihaknya menggandeng Pindad karena telah melihat rekam jejak Pindad yang dianggap sejalan dengan lini bisnis RDM.

“Selain itu, Indonesia juga kami anggap sebagai kawasan yang paling strategis untuk menjangkau pasar Asia Tenggara,” sambungnya.

(Detik)

View the Original article

Comments Off

Filed under Indonesia

PT. Palindo Marine dan PT. Citra Shipyard Siap Selesaikan 4 KCR-40

22 Juli 2014

 Kapal cepat rudal KCR-40 (photos : silep-04, kaskus militer)

Kapal perang buatan Indonesia diluncurkan September mendatang

Merdeka.com – Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr Marsetio meninjau galangan kapal PT. Palindo Marine Shipyard dan PT. Citra Shipyard Tanjung Uncang Batam, Kepulauan Riau, Kamis, yang merupakan tempat pembuatan kapal perang karya anak bangsa Indonesia.

Seperti yang diberitakan Antara, Kamis (17/7), Kasubdispenum Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Kolonel Laut (P) Suradi Agung Slamet, melaporkan Kasal dalam kunjungan itu diterima langsung oleh Direktur Utama PT. Palindo Marine, Harmanto, dan Dirut PT. Citra Shipyard, Frengky.

Saat ini, kedua perusahaan itu sedang membangun empat 4 unit Kapal Cepat Rudal (KCR) dan satu unit PC 43. Rinciannya, tiga unit KCR diproduksi oleh PT. Palindo Marine Shipyard, satu unit KCR dan satu unit PC 43 dibangun oleh PT. Citra Shipyard.

“Pembangunan kapal perang yang merupakan karya anak bangsa Indonesia ini siap diluncurkan pada awal September mendatang,” kata Direktur Utama Palindo Marine, Harmanto.

Kapal perang yang memiliki panjang 44 meter ini dapat melaju hingga 30 knots atau kurang lebih 60 kilometer per jam.

Sebelumnya, perusahaan ini telah sukses memproduksi sejumlah kapal perang TNI Angkatan Laut, antara lain KRI Clurit 641, KRI Kujang 642, dan KRI Beladau 643.


Dalam kunjungannya, Kasal didampingi Asrena Kasal Laksda TNI Agung Pramono, Panglima Armada Barat Laksda TNI Ary Atmaja, Kadismatal Laksma TNI Ir Bambang Naryono, Dan Lantamal lV Laksma TNI Agus Heryana, Dan Lantamal V Brigjen TNI Mar Rudy Andi Hamzah, Kabagset Smin Kasal Letkol Laut (KH) Ali Ridlo, dan Kabag Bungkol Kasal Letkol Laut (E) Lilik Asmoro.

Setelah melakukan peninjauan pembangunan kapal perang karya anak bangsa, Kasal beserta rombongan langsung menuju Batalyon Infanteri 10 Korps Marinir di Setoko, Batam, untuk meresmikan Masjid Al Barkah bagi seluruh prajurit Batalyon serta masyarakat sekitar.

Sebelumnya (16/7), Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko yang didampingi Kasal dan Wakasal melaksanakan inspeksi pasukan Marinir yang terlibat dalam pengamanan Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2014 di lapangan apel Kesatrian Marinir Hartono, Cilandak, Jakarta Selatan.

Kedatangan Panglima TNI beserta rombongan di Bhumi Marinir, Cilandak, disambut Komandan Korps Marinir Mayor Jenderal TNI (Mar) A. Faridz Washington dan Kepala Staf Korps Marinir Brigjen TNI (Mar) Siswoyo Hari Santoso. Pada pengamanan pilpres kali ini, Korps Marinir menerjunkan 2.901 personel dari jajaran marinir wilayah barat.

Dalam inspeksi untuk mengecek kesiapan serta kondisi prajurit Korps Marinir menjelang pengumuman hasil akhir Pilpres pada 22 Juli itu, Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko menekankan tiga hal yakni menjaga netralitas TNI, bersikap tegas dalam tindakan, dan profesional dalam bertugas dengan tetap dalam kendali Panglima TNI.

(Merdeka)

View the Original article

Comments Off

Filed under Indonesia

Myanmar Navy and Indonesia’s PT PAL in LPD talks

24 Juli 2014

PAL LPD 125 (photo : PAL)

The Myanmar Navy (MN) and Indonesian naval shipbuilder PT PAL are in talks over the MN’s potential purchase of landing platform docks (LPDs) to bolster sealift and amphibious capabilities, IHS Jane’s understands.

The two parties have recently entered what have been described to IHS Jane’s as “preliminary discussions” about the MN’s acquisition of a small number of vessels based on PT PAL’s Makassar-class LPD, which in turn is based on a design by South Korea’s Dae Sun Shipbuilding and Engineering.

PT PAL has delivered five Makassar-class LPDs to the Indonesian Navy and in June signed a contract to supply the Philippine Navy (PN) with two LPDs based on the same design.

(Jane’s)

View the Original article

Comments Off

Filed under Indonesia

S. Korea Opts for KF-X Twin-Engine Fighter Development

20 Juli 2014

The Joint Chiefs of Staff reached the decision to take the C-103 twin-engine platform over the single-engine one, putting an end to a long-drawn-out heated debate, according to the ministry. (photo : pgtyman, kodef)

SEOUL — The South Korean military has chosen to equip its future fighter jet with two engines instead of one amid lingering worries over the economic and technical merits of the twin-engine aircraft development.

The Joint Chiefs of Staff (JCS) held a top decision-making council Friday to make a choice about the number of engines for the KF-X jet, which is to be developed indigenously with technical assistance from a foreign partner.

South Korea aims to produce 120 or more KF-X aircraft after 2025 to replace the Air Force’s aging F-4s and F-5s, most of which will be decommissioned before the mid-2020s. The KF-X could be on par with an advanced F-16 jet armed with high-end avionics systems.

“The JCS formed a task force to review the costs, requirements and development schedules for the KF-X over the eight months,” JCS spokesman Eom Hyo-sik said. “As a result, the task force reached a decision that a twin-engine aircraft is a right choice as it meets future operational needs and can help catch up with neighboring countries’ aircraft development trends.”

Given the potential development period for a twin-engine jet, the spokesman said, the KF-X jet’s initial operating capability is to be scheduled for 2025, a two-year delay from the original goal.

The Defense Acquisition Program Administration (DAPA) is set to launch a bid for the engine contract as early as next month. Candidates would include the GE F414 and Eurojet EJ200, according to DAPA officials.


The JCS’ decision on the twin-engine platform comes amid heated debate over the feasibility of the KF-X jet development. The state-funded Korea Institute for Defense Analysis (KIDA) vehemently opposed the twin-engine design, citing high costs and technical challenges.

The KIDA assessed the KF-X development would cost about 9.6 trillion won (US $93 billion), but it expects the cost would be doubled if the jet is a twin-engine design.

The institute also claims an F-16 class jet with double engines doesn’t have a competitive edge in the export market dominated by US and European fighter aircraft.

“A new fighter aircraft is a massive endeavor at the best of times, and wildly unrealistic technical expectations do not help the project,” Lee Ju-hyung, a senior researcher at the KIDA said.

Kim Dae-young, a member of the Korea Defense and Security Forum, a Seoul-based private think tank, was worried if potential cost overruns would eventually hinder the development of indigenous avionics systems.

“Under the original KF-X plan, [active electronically scanned array] radars and other avionics shall be developed locally, but if development costs increase, those systems are likely to be adopted from foreign defense companies inevitably,” Kim said.

Korea Aerospace Industries (KAI) also preferred a single-engine type on the basis of its T-50 Golden Eagle supersonic trainer jet co-developed by Lockheed Martin. In recent years, KAI successfully fielded T-50’s lightweight fighter version, the FA-50, which were exported to Indonesia and the Philippines.

During an air and defense fair in October, KAI displayed a conceptual design with a 29,000-pound engine.


“A single-engine concept is in pursuance of both affordability and combat performance based on the advanced FA-50 technologies,” a KAI official said.

On the other hand, the Air Force, backed by the state-run Agency for Defense Development (ADD), brushed off concerns over costs overruns and technical difficulties.

“The KF-X is a 4.5-generation fighter that can carry weapons of 20,000 pounds or more,” an Air Force spokesman said. “Indonesia, a partner of the KF-X project, is supposed to buy a bunch of jets, and when mass production starts, the costs will go down.”

The spokesman added that a twin-engine aircraft larger than the KF-16 will provide more room for future upgrades and will help cope with growing air powers in the neighborhood — China and Japan — which are accelerating air force modernization.

Lee Dae-yeol, head of ADD’s KF-X project team, argues that a fighter with a new concept has better economic feasibility in terms of total life-cycle costs.

“The ADD has secured about 90 percent of independent technologies for the KF-X,” Lee noted. “Of the 432 technologies needed, the agency is only short of 48 items, such as engines and some avionics systems.”

The ADD hopes that it will be able to get those lacking technologies in offsets from Lockheed Martin, the successful bidder for South Korea’s F-X III fighter jet development program, and other foreign companies.

The ADD envisions that a KF-X Block 2 would have internal weapons bay, and Block 3 would feature stealth improvements to the level of the B-2 bomber or F-35 joint strike fighter.

Indonesia is the only KF-X partner at the moment. Indonesia is to bear 20 percent of the projected development costs, while the Korean government will take 60 percent. The funding for the remaining 20 percent remains unclear, as KAI is expected to bear part of the money.

(DefenseNews)

View the Original article

Comments Off

Filed under Indonesia

Indonesia’s PT PAL Signs Contract to Supply Strategic Sealift Vessels to the Philippines

18 Juli 2014

Indonesian shipbuilder PT PAL has signed a contract to supply two strategic sealift vessels (SSVs) to the Philippine Navy (PN). (image : Defense Studies)

PT PAL executive Edy Andarto confirmed to IHS Jane’s on 17 July that the contract – worth USD92 million – was signed with the PN in June and calls for the vessels to be supplied in 2016 and 2017.

The contract also stipulates a requirement for PT PAL to provide an integrated support package that will enable Philippine industry to undertake maintenance and support of the SSVs in partnership with the PN.

Discussions over the SSV contract had continued since January when PT PAL emerged as the sole bidder in the programme.

(Jane’s)

View the Original article

Comments Off

Filed under Indonesia

PT AIU Pasok Komponen Meriam Oerlikon Skyshield untuk Rheinmetall Defence

14 Juli 2014

Sistem pertahanan udara Oerlikon Skyshied (photos : AIU, Militaryphotos)

PT Alam Indomesin Utama mendapatkan kepercayaan dari Rheinmetall Defence untuk memasok sebagian komponen/peralatan meriam pertahanan udara Oerlikon Skyshield 35mm untuk memenuhi order dari Kementerian Pertahanan Indonesia.


Skyshield merupakan meriam reaksi cepat yang dapat melindungi area dari ancaman serangan artileri, roket, dan mortir. Indonesia berencana menggunakan Skyshield untuk melindungi pangkalan udara utama TNI AU. Pengoperasian sistem ini akan ditangani oleh Korps Pasukan Khas TNI AU. 


Indonesia membuat pesanan atas enam beterai Skyshield senilai EUR113 juta pada pertengahan tahun 2013, dengan waktu pengiriman pada akhir tahun 2014 atau selambat-lambatnya awal tahun 2015.


Sebanyak 8 set komponen meriam pertahanan udara Oerlikon SkyShield 35mm akan dikirimkan PT. AIU pada akhir Agustus 2014. Pekerjaan ini telah dilakukan sejak bulan April lalu, untuk tahapan selanjutnya akan diselesaikan sebelum akhir tahun 2014.


Berdasarkan UU No. 16/2012 tentang Industri Pertahanan maka untuk pengadaan alat utama sistem senjata diwajibkan untuk menggunakan konten lokal dan melakukan transfer of technology agar dapat mendukung industri pertahanan Indonesia. Untuk kontrak ini konten lokal yang diharakan mencapai 35%. 

Teknologi pertahanan udara meriam Skyshield 35 mm tidak terbatas untuk peran statis, dalam beberapa pameran pertahanan Rheinmetall Defence menampilkan pula versi truck mounted, pada versi ini meriam dan radar dipasangkan pada truk beroda 8 atau 10. Platform truk yang pernah dipakai adalah MAN dan Tata. Versi mobile ini terlihat lebih optimum karena sistem pertahanan udara dapat dipindahkan dalam waktu singkat untuk melindungi daerah lain secara cepat dan maksimum.



Ternyata sistem Oerlikon Skyshield yang dipilih untuk melindungi pangkalan udara TNI AU adalah jenis truck mounted. Basis truk yang diambil adalah HINO Ranger, kendaraan ini dipilih untuk mendapatkan sebanyak mungkin konten lokal. Truk HINO ini telah banyak kandungan lokalnya hingga mencapai 60-90% tergantung pada modelnya.

(AIU-Defense Studies)

View the Original article

Comments Off

Filed under Indonesia