Tag Archives: Leopard

Leopard Carrier Akhirnya Meluncur ke Laut

06 September 2014

Kapal pengangkut tank Leopard (LST : Landing Ship Tank) KRI Teluk Bintuni 520 (all photos : Saibumi)
Setelah beberapa kali mengalami perubahan jadwal, akhirnya kapal pengangkut tank Leopard KRI Teluk Bintuni 520 meluncur ke laut pada hari jumat siang kemarin (05/09). Mengutip pemberitaan dari Saibumi kapal ini meluncur sendiri ke laut sebelum acara dimulai karena tiupan angin kencang dan putusnya sling baja penambat kapal ini, akhirnya kapal yang di bagian bawahnya dilandasi bantalan karet sebagai slipway ini meluncur ke laut.


Sumber di galangan kapal PT Daya Radar Utama mengatakan bahwa tidak ada korban serius atas insiden ini dan kapal akan ditarik tugboat ke dermaga yang telah dipersiapkan menunggu saat air laut pasang.

Menilik konsep Minimum Essential Force maka TNI AL membutuhkan 41 kapal tipe LST hingga tahun 2024. Saat MEF tersebut dibuat pada tahun 2004, TNI AL telah memiliki 28 kapal LST dari beberapa kelas yang dibuat oleh galangan kapal AS, Korea Selatan dan Rusia. 


Dari kekurangan 13 kapal LST tersebut, pemerintahan Presiden Yudhoyono memesan 3 kapal LST kepada galangan kapal dalam negeri. Dua kapal dikerjakan oleh PT Dok Kodja Bahari di Jakarta, dan satu kapal dikerjakan oleh PT. Daya Radar Utama di Lampung. 

Kapal LST KRI Teluk Bintuni 520 mempunyai ukuran panjang 120 meter, lebar 18 meter, dan  tinggi 11 meter. Dengan mesin berkekuatan 2×3285 KW kapal seharga Rp 160 milyar ini dapat melaju di laut dengan kecepatan 16 knot.


Kapal ini rencananya akan berangkat ke Jakarta pada tanggal 25 September, dan kemudian pada tanggal 28 September kapal ini akan diuji coba untuk dimuati 10 tank Leopard di pelabuhan Tanjung Priok Jakarta untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Daya muat KRI Teluk Bintuni ini mampu untuk membawa 10 tank Leopard, 2 helikopter dan 361 pasukan bersenjata lengkap.


Kapal ini diproyeksikan untuk dilengkapi dengan tiga jenis meriam yaitu satu unit meriam ukuran 40 mm, dua unit meriam ukuran 20 mm dan dua unit meriam ukuran 12,7 mm.

(Defense Studies)

View the Original article

Comments Off

Filed under Indonesia

Menhan Tinjau Progres LST Pengangkut Tank Leopard

30 Juni 2014

Kapal LST produksi PT Daya Radar Utama ditargetkan selesai sebelum Oktober 2014 (photo : Kemhan)

Menhan Tinjau Galangan Kapal Pembuat Kapal Pengangkut Tank Leopard

Lampung, DMC -Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro didampingi beberapa pejabat Eselon I di jajaran Kementerian Pertahanan meninjau perusahaan galangan kapal pembuat kapal pengangkut Tank Leopard, PT. Daya Radar Utama, Sabtu (28/6) di Lampung.

Dalam kunjungan tersebut, Menhan dan rombongan diterima oleh Direktur Utama PT. Daya Radar Utama Amir Gunawan. Sebelum peninjauan secara langsung proses pembangunan kapal, terlebih dahulu Menhan dan rombongan menerima paparan dari General Manajer PT. Daya Radar Utama Unit Lampung, Edi Wiyono terkait dengan progres dari pembangunan kapal.

Menhan berharap, pembanguanan kapal yang merupakan pesanan dari TNI AL tersebut dapat selesai pada akhir bulan September 2014, sehingga nantinya sudah siap untuk ditampilkan pada Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun TNI pada Oktober 2014 mendatang di Surabaya. Kapal tersebut menjadi kebanggaan karya anak bangsa sebagai salah satu produk industri pertahanan dalam negeri.

(DMC)

View the Original article

Comments Off

Filed under Indonesia

Digandeng Rheinmetall, Pindad Bangun Pabrik Amunisi Leopard untuk Asia

26 Juni 2014

MBT Leopard II TNI AD (photo : Detik)

Unterluss – Ada maksud strategis yang dilakukan pemerintah dalam pengadaan 180 unit tank Leopard dan Marder, produk Rheinmetall dari Jerman. Ternyata dalam pembelian tank berat ini pemerintah tidak hanya sekadar belanja, tapi juga bermaksud untuk pengembangan PT Pindad di masa yang akan datang.

Karena itu, dalam peninjauan ke pabrik Rheinmetall di Unterluss, Jerman, Wakil Menteri Pertahanan (Wamen) Sjafrie Sjamsoeddin mengajak serta Dirut PT Pindad Sudirman Said. Diharapkan, Sudirman Said yang baru dilantik awal Juni lalu itu bisa mendengar dan melihat bagaimana Rheinmetall memproduksi Leopard dan bisa segera merealisasikan kesepakatan kerjasama Rheinmetall dengan PT Pindad yang telah diteken sebelumnya.

“Kerjasama tidak hanya membeli senjata, tapi ada transfer teknologi untuk membangun kemampuan industri pertahanan dalam negeri,” tegas Sjafrie dalam jumpa pers seusai penyerahan simbolis tank Leopard dan Marder tahap pertama di pabrik Rheinmetall, Unterluss, Senin (23/6/2014) sore.

Menurut Sjafrie, Rheinmetall bersama PT Pindad akan mengembangkan pabrik amunisi kaliber besar, sehingga amunisi Leopard yang memiliki canon 120 mm itu akan diproduksi di Indonesia. Bahkan, lanjut Sjafrie, nantinya PT Pindad akan menjadi pusat distribusi amunisi Leopard di seluruh Asia.

“Inilah yang menjadi target strategis dalam pengadaan alutsista kita. Kita tidak hanya membeli senjata, tapi juga menyerap sistem, sehingga kemandirian industri pertahanan itu bisa mendukung kemampuan pertahanan kita. Kita akan mandiri dan bebas dari kemungkinan-kemungkinan restriksi dari luar negeri,” ujar dia.

Saat ditanya kapan realisasi PT Pindad membangun pabrik untuk amunisi Leopard, Sjafrie menyatakan MoU terkait kerjasama ini sudah ditandatangani. “Jadi nanti secara bertahap akan dilangsungkan kegiatan Dirut Pindad dan Rheinmetall,” kata Sjafrie.

Dari kerjasama dengan Rheinmetall, diharapkan kualitas teknik dari industri pertahanan dalam negeri Indonesia juga akan semakin bertambah baik. “Kalau nanti Indonesia bisa menjadi pasar di Asia, kita bisa menjadi regional power di dalam market industri pertahanan. Ini yang kita jalankan,” tegas dia.

Local Content untuk Leopard

Dalam pembuatan Leopard yang dipesan Indonesia, PT Pindad yang selama ini sudah berpengalaman dalam membuat tank dan panser Anoa, juga akan dilibatkan dalam pemasangan beberapa bagian, termasuk dalam sistem pendingin dan sistem komunikasi. Pelibatan ini merupakan bagian dari upaya mencari nilai tambah keuntungan untuk Indonesia dan transfer teknologi.

“Jadi, bagian-bagian yang belum dipasang di Jerman, akan dilaksanakan di PT Pindad, terkait local content-nya. Kalau kita beli persenjataan, kita harus pikirkan bagaimana industri pertahanan dalam negeri dapat nilai tambah. Nah salah satu nilai tambah itu adalah kegiatan-kegiatan teknik yang belum selesai di sini akan dilakukan di PT Pindad. Kita tidak keluarkan biaya, karena itu bagian dari kontrak,” ujar Sjafrie.

(Detik)

View the Original article

Comments Off

Filed under Indonesia

Indonesia Akan Jadi Pusat Produksi Suku Cadang Leopard di Asia

24 Juni 2014

26 MBT Leopard dan 26 Marder akan tiba di Indonesia pada September 2014. Total pengiriman 164 unit Tank Leopard akan selesai hingga 2016 (all photos : Detik)

TRIBUNNEWS.COM, JERMAN – Roll out and hand over batch pertama tank Leopard dilakukan, Selasa (24/6/2014),  di fasilitas pabrik pembuatan tank Leopard yang dimiliki Rheinmettal Landsysteme GmbH.

Pada upacara roll out dan handover ini diluncurkan secara simbolis 1 unit Leopard Main Battle Tank (MBT) dan 1 unit Marder yang dilakukan oleh Harald Westermann, Managing Director Rheinmettal Landsysteme GmbH, kepada Wamenhan, Letjen (Purn) TNI Sjafrie Sjamsoeddin.

“Revitalisasi dan modernisasi alutsista militer Indonesia adalah dalam rangka menjalankan tugas negara menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI,” ujar Sjafrie dalam keterangannya.

Dikatakan menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah suatu negara adalah sebuah hasil kerja militer dan non militer. “Kehadiran main battle tank Leopard di wilayah Indonesia ini   adalah bagian penting dalam menjalankan tugas ini,” kata Sjafrie.

Sjafrie juga menyampaikan bahwa apa yang dilakukan hari ini merupakan catatan sejarah tersendiri dalam hubungan bilateral Indonesia-Jerman. 


“Pembelian unit tank Leopard diikuti oleh Nota Kesepahaman antara Rheinmettal dengan PT PINDAD (Persero) untuk Indonesia dapat memproduksi beberapa suku cadang tank Leopard,” ungkap Sjafrie.

Ditegaskan kerjasama antara Pemerintah Jerman dan Indonesia ini diikuti oleh alih teknologi yang menguntungkan industri persenjataan, amunisi dan kendaraan alat tempur dalam negeri.

“Pindad akan kami jadikan pusat produksi dan distribusi suku cadang tank Leopard untuk wilayah Asia,” ujar Sjafrie.

Dalam kesempatan yang sama Sudirman Said, Presiden Direktur PT PINDAD (Persero) menyatakan bahwa MoU sedang dipersiapkan antara kedua belah pihak. “Target kami MoU bisa ditandatangani kedua belah pihak di akhir Juli 2014,” kata Sudirman.

Dalam pidato sambutanya Sjafrie juga mengapresiasi inisiatif yang telah dilakukan mantan KSAD, Jendral (Purn) Pramono Edhie Wibowo. “Pak Edhie selaku KSAD TNI saat itu mengajukan peremajaan alutsista dan mengusulkan pembelian main battle tank yang sebelumnya tidak dimiliki Indonesia,” tutur Sjafrie.

Rencananya 26 main battle tank dan 26 marder Leopard akan tiba di Indonesia di September 2014. Total pengiriman 164 unit tank Leopard akan selesai hingga 2016.

(TribunNews)

View the Original article

Comments Off

Filed under Indonesia

PT Pindad Siap Produksi Amunisi Tank 2A4 Leopard

06 Juni 2014

Amunisi 120mm untuk MBT Leopard 2 (photos : defence point, defense update)

Bandung (ANTARA News) – Satu lompatan dilakukan PT Pindad, setelah Direktur Utama PT Pindad, Sudirman Said, menyatakan kesanggupan perusahaan itu membuat dan membangun amunisi tank utama 2A4 Leopard. 

“Dari hasil Latihan Gabungan TNI 2014, banyak yang harus kami jawab, salah satunya melengkapi amunisi bagi beberapa perenjataan terkini TNI, termasuk peluru meriam 120mm smoothbore untuk tank Leopard,” kata Said, di Bandung, Jumat. 

Menurut dia, untuk peluru meriam 120mm smoothbore Leopard, ditargetkan pengembanganya sudah bisa dilakukan mulai akhir 2015.

“Sehingga kita bisa memenuhi kebutuhan kesenjataan tank itu,” katanya. 

Leopard memakai dua varian meriam utama, yaitu Rheinmetall 120 mm L44 atau L55 smoothbore alias tanpa ulir sepanjang 5,28 meter dan berbobot 3,37 ton. 


Laras meriam tanpa ulir merupakan “jawaban” pada dasawarsa ’70-an atas kejayaan seri tank T-72/80 dari Uni Soviet yang bisa membantai secara mudah tank-tank Barat. 

Laras meriam tanpa ulir juga memiliki energi kinetik lebih besar ketimbang yang berulir sehingga meninggikan efek mematikan amunisi yang dilontarkan. 

Selain amunisi konvensional, meriam ini bisa menerima berbagai tipe amunisi, sebutlah Armour Piercing Discarding Sabot DM23, ataupun Armour Piercing Fin Stabilized Discarding Sabot M829 dengan kepala ledak berisikan uranium. 

Masih ada amunisi Multi Purpose Anti Tank Projectile yang berbasis teknologi High Explosive Anti Tank, buatan Jerman, berdesignasi NATO sebagai DM12.

(Antara)

View the Original article

Comments Off

Filed under Indonesia

Qatar’s Armored Brigade to Receive Leopard 2 MBTs, Pzh2000 Artillery

Leopard 2A7+ is the latest version of the Leopard 2 tank from KMW. It is well adapted for asymmetric and full scale warfare. Photo: KMW

Leopard 2A7+ is the latest version of the Leopard 2 tank from KMW. It is well adapted for asymmetric and full scale warfare. Photo: KMW

The German company Krauss-Maffei Wegmann (KMW) announced it has signed a contract with the Emirate of Qatar to modernize the Emirate’s single armored brigade, at an investment of about $2.5 billion. The acquisition is part of a comprehensive modernization program the Emirate’s military forces is undergoing in recent years. In the past years Qatari authorities have evaluated offers from the U.S., China, France, Germany, South Korea and Turkey to equip their armored brigade.

The Emirates’ land forces, comprising some 8,500 soldiers has not received significant modernization in recent years. Despite the country’s wealth from oil and trade, Qatari land forces were not spoiled with modern equipment in recent years. In fact, the Qatari forces still operate a fleet of French AMX-30B2 main battle tanks and South African G5 towed howitzers and Mk F3 self-propelled guns acquired in the 1980s. The only new infusion of hardware was in the air defense of the island, fielding 12 batteries of Patriot PAC-3. Qatar is likely to become one of the first international operator of the Terminal High Altitude Air defense (THAAD) missile defense system.

The PzH2000 SP Howitzer is in active service with the German, Italian, Hellenic and Dutch military. Qatar is buying 24 of these Howitzers. Photo: KMW

The PzH2000 SP Howitzer is in active service with the German, Italian, Hellenic and Dutch military. Qatar is buying 24 of these Howitzers. Photo: KMW

Under the armored brigade’s modernization package signed with KMW the Emirate will receive two battalions of Leopard 2 MBTs, that will replace the AMX-30s. The package will also include 24 PzH2000  SP guns replacing the G5s. The latest version of Leopard 2 KMW is currently offering is the A7+, implementing an enhanced protection, firepower and digitization systems better adapting the tank for operations in asymmetric, urban environment. Rumors of the deal surfaced in Germany in 2012, claiming that Qatar is interested in buying up to 200 Leopard 2 tanks.

The Qatari armored brigade currently employs one tank battalion, one mechanized battalion and an artillery regiment. With the quantity of new hardware doubling the number of tanks and artillery being replaced (62 vs 30+), it is likely the Qatari Army will deploy these assets in more flexible formations, better equipped and organized for modern warfare. According to French recommendations, the brigade should include one tank regiment, two infantry regiments and an artillery regiment. Such formations enable the flexible deployment of multiple task forces. Such reorganization could also lead to the procurement of modern infantry fighting vehicles. The Qatari Army is currently using various wheeled armored vehicles for protected infantry transport, including Piranha, VAB and AMX-10 of Swiss and French origin.

According to KMW, the project’s total amount reaches €1.89 billion, including the delivery of peripheral equipment, training installations and additional services. The systems delivered to Qatar by Krauss-Maffei Wegmann are intended to progressively replace the emirates outdated artillery and tanks of French and South African origin. According to the German company, these outdated assets “will be scrapped”.

The Qatari deal was in the making for over two years. KMW is pursuing other opportunities in the Middle east, particularly in Saudi Arabia, where Germany is offering to sell the kingdom some 800 Leopard 2 tanks and Boxer armored fighting vehicles. However, the possibility of selling the tanks to the Saudis has raised considerable opposition in Germany.

Leopard 2A6 is the variant widely used in Afghanistan by the German, Canadian and Danish forces. Photo: KMW

Leopard 2A6 is the variant widely used in Afghanistan by the German, Canadian and Danish forces. Photo: KMW

View the Original article

Comments Off

Filed under Defense Update

Qatar’s Armored Brigade to Receive Leopard 2 MBTs, Pzh2000 Artillery

Leopard 2A7+ is the latest version of the Leopard 2 tank from KMW. It is well adapted for asymmetric and full scale warfare. Photo: KMW

Leopard 2A7+ is the latest version of the Leopard 2 tank from KMW. It is well adapted for asymmetric and full scale warfare. Photo: KMW

The German company Krauss-Maffei Wegmann (KMW) announced it has signed a contract with the Emirate of Qatar to modernize the Emirate’s single armored brigade, at an investment of about $2.5 billion. The acquisition is part of a comprehensive modernization program the Emirate’s military forces is undergoing in recent years. In the past years Qatari authorities have evaluated offers from the U.S., China, France, Germany, South Korea and Turkey to equip their armored brigade.

The Emirates’ land forces, comprising some 8,500 soldiers has not received significant modernization in recent years. Despite the country’s wealth from oil and trade, Qatari land forces were not spoiled with modern equipment in recent years. In fact, the Qatari forces still operate a fleet of French AMX-30B2 main battle tanks and South African G5 towed howitzers and Mk F3 self-propelled guns acquired in the 1980s. The only new infusion of hardware was in the air defense of the island, fielding 12 batteries of Patriot PAC-3. Qatar is likely to become one of the first international operator of the Terminal High Altitude Air defense (THAAD) missile defense system.

The PzH2000 SP Howitzer is in active service with the German, Italian, Hellenic and Dutch military. Qatar is buying 24 of these Howitzers. Photo: KMW

The PzH2000 SP Howitzer is in active service with the German, Italian, Hellenic and Dutch military. Qatar is buying 24 of these Howitzers. Photo: KMW

Under the armored brigade’s modernization package signed with KMW the Emirate will receive two battalions of Leopard 2 MBTs, that will replace the AMX-30s. The package will also include 24 PzH2000  SP guns replacing the G5s. The latest version of Leopard 2 KMW is currently offering is the A7+, implementing an enhanced protection, firepower and digitization systems better adapting the tank for operations in asymmetric, urban environment. Rumors of the deal surfaced in Germany in 2012, claiming that Qatar is interested in buying up to 200 Leopard 2 tanks.

The Qatari armored brigade currently employs one tank battalion, one mechanized battalion and an artillery regiment. With the quantity of new hardware doubling the number of tanks and artillery being replaced (62 vs 30+), it is likely the Qatari Army will deploy these assets in more flexible formations, better equipped and organized for modern warfare. According to French recommendations, the brigade should include one tank regiment, two infantry regiments and an artillery regiment. Such formations enable the flexible deployment of multiple task forces. Such reorganization could also lead to the procurement of modern infantry fighting vehicles. The Qatari Army is currently using various wheeled armored vehicles for protected infantry transport, including Piranha, VAB and AMX-10 of Swiss and French origin.

According to KMW, the project’s total amount reaches €1.89 billion, including the delivery of peripheral equipment, training installations and additional services. The systems delivered to Qatar by Krauss-Maffei Wegmann are intended to progressively replace the emirates outdated artillery and tanks of French and South African origin. According to the German company, these outdated assets “will be scrapped”.

The Qatari deal was in the making for over two years. KMW is pursuing other opportunities in the Middle east, particularly in Saudi Arabia, where Germany is offering to sell the kingdom some 800 Leopard 2 tanks and Boxer armored fighting vehicles. However, the possibility of selling the tanks to the Saudis has raised considerable opposition in Germany.

Leopard 2A6 is the variant widely used in Afghanistan by the German, Canadian and Danish forces. Photo: KMW

Leopard 2A6 is the variant widely used in Afghanistan by the German, Canadian and Danish forces. Photo: KMW

View the Original article

Comments Off

Filed under Defense Update