Monthly Archives: June 2014

Digandeng Rheinmetall, Pindad Bangun Pabrik Amunisi Leopard untuk Asia

26 Juni 2014

MBT Leopard II TNI AD (photo : Detik)

Unterluss – Ada maksud strategis yang dilakukan pemerintah dalam pengadaan 180 unit tank Leopard dan Marder, produk Rheinmetall dari Jerman. Ternyata dalam pembelian tank berat ini pemerintah tidak hanya sekadar belanja, tapi juga bermaksud untuk pengembangan PT Pindad di masa yang akan datang.

Karena itu, dalam peninjauan ke pabrik Rheinmetall di Unterluss, Jerman, Wakil Menteri Pertahanan (Wamen) Sjafrie Sjamsoeddin mengajak serta Dirut PT Pindad Sudirman Said. Diharapkan, Sudirman Said yang baru dilantik awal Juni lalu itu bisa mendengar dan melihat bagaimana Rheinmetall memproduksi Leopard dan bisa segera merealisasikan kesepakatan kerjasama Rheinmetall dengan PT Pindad yang telah diteken sebelumnya.

“Kerjasama tidak hanya membeli senjata, tapi ada transfer teknologi untuk membangun kemampuan industri pertahanan dalam negeri,” tegas Sjafrie dalam jumpa pers seusai penyerahan simbolis tank Leopard dan Marder tahap pertama di pabrik Rheinmetall, Unterluss, Senin (23/6/2014) sore.

Menurut Sjafrie, Rheinmetall bersama PT Pindad akan mengembangkan pabrik amunisi kaliber besar, sehingga amunisi Leopard yang memiliki canon 120 mm itu akan diproduksi di Indonesia. Bahkan, lanjut Sjafrie, nantinya PT Pindad akan menjadi pusat distribusi amunisi Leopard di seluruh Asia.

“Inilah yang menjadi target strategis dalam pengadaan alutsista kita. Kita tidak hanya membeli senjata, tapi juga menyerap sistem, sehingga kemandirian industri pertahanan itu bisa mendukung kemampuan pertahanan kita. Kita akan mandiri dan bebas dari kemungkinan-kemungkinan restriksi dari luar negeri,” ujar dia.

Saat ditanya kapan realisasi PT Pindad membangun pabrik untuk amunisi Leopard, Sjafrie menyatakan MoU terkait kerjasama ini sudah ditandatangani. “Jadi nanti secara bertahap akan dilangsungkan kegiatan Dirut Pindad dan Rheinmetall,” kata Sjafrie.

Dari kerjasama dengan Rheinmetall, diharapkan kualitas teknik dari industri pertahanan dalam negeri Indonesia juga akan semakin bertambah baik. “Kalau nanti Indonesia bisa menjadi pasar di Asia, kita bisa menjadi regional power di dalam market industri pertahanan. Ini yang kita jalankan,” tegas dia.

Local Content untuk Leopard

Dalam pembuatan Leopard yang dipesan Indonesia, PT Pindad yang selama ini sudah berpengalaman dalam membuat tank dan panser Anoa, juga akan dilibatkan dalam pemasangan beberapa bagian, termasuk dalam sistem pendingin dan sistem komunikasi. Pelibatan ini merupakan bagian dari upaya mencari nilai tambah keuntungan untuk Indonesia dan transfer teknologi.

“Jadi, bagian-bagian yang belum dipasang di Jerman, akan dilaksanakan di PT Pindad, terkait local content-nya. Kalau kita beli persenjataan, kita harus pikirkan bagaimana industri pertahanan dalam negeri dapat nilai tambah. Nah salah satu nilai tambah itu adalah kegiatan-kegiatan teknik yang belum selesai di sini akan dilakukan di PT Pindad. Kita tidak keluarkan biaya, karena itu bagian dari kontrak,” ujar Sjafrie.

(Detik)

View the Original article

Comments Off on Digandeng Rheinmetall, Pindad Bangun Pabrik Amunisi Leopard untuk Asia

Filed under Indonesia

Amunisi Meriam Caesar 155 Akan Diproduksi PT Pindad

26 Juni 2014

Amunisi meriam Caesar 155 mm (all photos : Detik)

Roanne – Sambil menyelam minum air. Itulah yang dilakukan Kementerian Pertahanan (Kemhan) dalam pengadaan modernisasi alutsista Indonesia. Membeli senjata, tidak hanya sekadar membeli, tapi juga menyerap teknologi. Sebagai contoh, dalam pembelian meriam Caesar 155 yang memiliki daya tembak 39 KM, Indonesia juga memiliki kerjasama dengan Nexter untuk memproduksi amunisinya bersama PT Pindad. 

Bagaimana rupa amunisi berkaliber 155 mm itu? detikcom berkesempatan melihat dan mencoba mengangkat amunisi berwarna hijau di bagian batangnya dan hitam di pucuknya itu. Wow! Sangat berat, berbobot 47 kg. Untuk membopongnya harus menggunakan dua tangan.

Amunisi berbentuk runcing ini terbagi menjadi dua. Bagian pertama adalah bagian tabung yang berisi mesiu. Bagian kedua adalah sumbu (fuse) yang terletak di bagian ujung yang runcing. Di bagian sumbu ini terdapat timer – berisi angka-angka -, untuk menetapkan kapan amunisi itu meledak setelah didorong oleh meriam. 

Beberapa contoh amunisi meriam Caesar 155 ini dihadirkan saat penyerahan 4 Caesar 155 di ruang workshop pabrik Nexter di Roanne, Prancis, Rabu (25/6/2014). Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin juga sempat berdiri lama melihat amunisi dan berbincang serius dengan pihak Nexter. 


Sjafrie telah mengingatkan Nexter agar segera dibahas mengenai koordinasi dalam pembuatan amunisi itu bersama PT Pindad, sebagai bagian dari kesepakatan yang telah ditandatangani. Saat diingatkan hal ini, M Mike Duckworth, Executive Vice President International Affairs Nexter, menyatakan sangat memahami hal ini dan siap melaksanakannya. 

“Tentunya ke depan kita akan kerjasama, Pindad akan berperan dalam membuat amunisi. Inilah target kemandirian industri pertahanan kita. Kita beli senjata, beli amunisi, kita pelajari juga bagaimana membuat amunisi. Mudah-mudahan 5 tahun ke depan Pindad sudah bisa membuat amunisi kaliber besar untuk meriam 155 mm dan bagaimana membuat amunisi besar untuk artileri lain,” kata Sjafrie.

Sebelum meninggalkan pabrik Nexter, Sjafrie juga sempat berbincang serius dengan Duckworth dan mengundang Dirut PT Pindad Sudirman Said dan Danpusenarmed Brigjen TNI Sonhadji. Dalam perbincangan itu, lagi-lagi Sjafrie mengingatkan Nexter agar segera berkoordinasi dengan Pindad dalam kerjasama membuat amunisi. Sudirman Said sebagai dirut Pindad dan Duckworth menegaskan siap untuk berkoordinasi. 

Seperti diketahui, Indonesia membeli 37 unit Caesar 155 dengan biaya US$ 141 juta. Harga ini sudah termasuk dengan 2.000 amunisinya. Caesar 155 merupakan meriam berdaya tembak 39 KM yang terangkut truk, sehingga bisa lebih cepat bergerak.

(Detik)

View the Original article

Comments Off on Amunisi Meriam Caesar 155 Akan Diproduksi PT Pindad

Filed under Indonesia

Rusia Siap Rangkul RI Garap Drone

25 Juni 2014

Rusia siap bekerjasama dengan Indonesia mengembangkan UAV untuk memantau wilayah maritim. Untuk memantau wilayah maritim yang luas seperti Indonesia dibutuhkan UAV besar bertipe HALE (High Altitude Long Endurance) (photo : aiononline)

JAKARTA – Isu pesawat nirawak untuk pertahanan Indonesia mencuat dalam debat calon presiden (Capres) Indonesia Minggu malam lalu. Dari isu itu, Rusia siap merangkul Indonesia untuk bekerjasama mengembangkan drone yang bisa digunakan untuk memantau wilayah maritim Indonesia.

Kesiapan Rusia untuk bekerjasama dengan Indonesia dalam mengembangkan drone disampaikan Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Y Galuzin. Menurutnya, Rusia dan Indonesia sudah lama bekerjasama dalam bidang alutista. Siapa pun presiden Indonesia yang terpilih nanti, dia harapkan untuk melanjutkan kerjasama alutsista dengan Rusia.

“Jika kami (Rusia) mendapatkan proposal dari Indonesia untuk bekerjasama dalam hal pengembangan drone, tentu saja kami akan sangat senang untuk bekerjasama,” ucap Galuzin, saat ditemui Sindonews, Selasa (24/6/2014).

Galuzin mengakui Rusia memiliki beberapa drone.Tapi, menurut dia penggunaan drone sangat jarang dilakukan oleh Rusia. Dia menyatakan Rusia hanya menggunakan drone di saat-saat penting, yang memang mengharuskan pemerintah untuk menerjunkan pesawat tanpa awak itu.

Isu drone untuk memantau wilayah maritim mencuat, ketika kedua Capres Indonesia, yakni Prabowo Subianto dan Joko Widodo menyampaikan visi misi dan adu argumen tentang alutsista Indonesia. Joko Widodo memunculkan isu drone untuk memantau dan melindungi wilayah maritim Indonesia.

(SindoNews)

View the Original article

Comments Off on Rusia Siap Rangkul RI Garap Drone

Filed under Indonesia

Indonesia Akan Jadi Pusat Produksi Suku Cadang Leopard di Asia

24 Juni 2014

26 MBT Leopard dan 26 Marder akan tiba di Indonesia pada September 2014. Total pengiriman 164 unit Tank Leopard akan selesai hingga 2016 (all photos : Detik)

TRIBUNNEWS.COM, JERMAN – Roll out and hand over batch pertama tank Leopard dilakukan, Selasa (24/6/2014),  di fasilitas pabrik pembuatan tank Leopard yang dimiliki Rheinmettal Landsysteme GmbH.

Pada upacara roll out dan handover ini diluncurkan secara simbolis 1 unit Leopard Main Battle Tank (MBT) dan 1 unit Marder yang dilakukan oleh Harald Westermann, Managing Director Rheinmettal Landsysteme GmbH, kepada Wamenhan, Letjen (Purn) TNI Sjafrie Sjamsoeddin.

“Revitalisasi dan modernisasi alutsista militer Indonesia adalah dalam rangka menjalankan tugas negara menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI,” ujar Sjafrie dalam keterangannya.

Dikatakan menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah suatu negara adalah sebuah hasil kerja militer dan non militer. “Kehadiran main battle tank Leopard di wilayah Indonesia ini   adalah bagian penting dalam menjalankan tugas ini,” kata Sjafrie.

Sjafrie juga menyampaikan bahwa apa yang dilakukan hari ini merupakan catatan sejarah tersendiri dalam hubungan bilateral Indonesia-Jerman. 


“Pembelian unit tank Leopard diikuti oleh Nota Kesepahaman antara Rheinmettal dengan PT PINDAD (Persero) untuk Indonesia dapat memproduksi beberapa suku cadang tank Leopard,” ungkap Sjafrie.

Ditegaskan kerjasama antara Pemerintah Jerman dan Indonesia ini diikuti oleh alih teknologi yang menguntungkan industri persenjataan, amunisi dan kendaraan alat tempur dalam negeri.

“Pindad akan kami jadikan pusat produksi dan distribusi suku cadang tank Leopard untuk wilayah Asia,” ujar Sjafrie.

Dalam kesempatan yang sama Sudirman Said, Presiden Direktur PT PINDAD (Persero) menyatakan bahwa MoU sedang dipersiapkan antara kedua belah pihak. “Target kami MoU bisa ditandatangani kedua belah pihak di akhir Juli 2014,” kata Sudirman.

Dalam pidato sambutanya Sjafrie juga mengapresiasi inisiatif yang telah dilakukan mantan KSAD, Jendral (Purn) Pramono Edhie Wibowo. “Pak Edhie selaku KSAD TNI saat itu mengajukan peremajaan alutsista dan mengusulkan pembelian main battle tank yang sebelumnya tidak dimiliki Indonesia,” tutur Sjafrie.

Rencananya 26 main battle tank dan 26 marder Leopard akan tiba di Indonesia di September 2014. Total pengiriman 164 unit tank Leopard akan selesai hingga 2016.

(TribunNews)

View the Original article

Comments Off on Indonesia Akan Jadi Pusat Produksi Suku Cadang Leopard di Asia

Filed under Indonesia

Syria militants now using Humvees seized in Iraq

Militants fighting in Syria’s war put to use for the first time on Sunday American-made Humvees that they seized during a lightning offensive in Iraq this month, a monitor said.

The Islamic State of Iraq and the Levant, or ISIL, used the armoured vehicles to capture the villages of Eksar and Maalal in Aleppo province, which borders Turkey, said the Syrian Observatory for Human Rights.

It came after heavy fighting against the Islamic Front and its Al-Qaeda-affiliated ally, the Al-Nusra Front, said the Observatory, a Britain-based group that gets its information from a network of sources on the ground.

The two villages are located near the town of Azaz, which ISIL militiamen abandoned at the end of February under attack from rebels fighting to oust Syria’s President Bashar al-Assad.

ISIL, which espouses a radical interpretation of Islam and aims to set up a state stretching across the Syria-Iraq border, is now expected to launch a bid to retake Azaz.

ISIL seized the Humvees and sent them to Syria after Iraqi soldiers abandoned them during a surprise Sunni jihadist offensive that claimed Iraq’s second city of Mosul and swathes of other territory in mid-June.

Also on Sunday, ISIL gunmen abducted 20 Kurdish students on the road between Hasakeh and Qamishli in northeastern Syria, said the Observatory.

It comes three weeks after ISIL kidnapped 145 Kurdish students in Aleppo, as well as 193 Kurdish civilians at Qabasine village in the same province.

Parents of five students who managed to escape said the jihadists demanded that they join them in the fighting.

Kurdish militias, who are also trying to expand their autonomous region, have fought for months with ISIL, which has been seeking to seize from their control oil fields in northern and eastern areas.

Related Topic Tags

Related Defense, Military & Aerospace Forum Discussions

View the Original article

Comments Off on Syria militants now using Humvees seized in Iraq

Filed under Defence Talk

More than 400 US military drones lost in crashes: report

The United States has lost more than 400 military drones in major crashes worldwide since 2001, The Washington Post said Friday in a report questioning the safety and reliability of the unmanned aircraft.

Citing 50,000 pages of accident investigation reports, the Post said military drones have since the 9/11 attacks “malfunctioned in myriad ways,” including mechanical breakdowns, human error and foul weather.

“Military drones have slammed into homes, farms, runways, highways, waterways and, in one case, an Air Force C-130 Hercules transport plane in midair,” it said.

Of the 418 known crashes between September 11, 2001 and the end of 2013, the Post said it had identified 194 so-called Class A crashes that resulted in either the total loss of a drone or damages in excess of $2 million.

The total figure is almost equal to the number of major crashes involving US Air Force fighter jets and attack planes during the same period — even though the drones flew far fewer missions and hours.

Sixty-seven drone crashes occurred in Afghanistan, and 41 in Iraq, but 47 occurred within the United States during test and training flights, the Post said on its website.

One army drone crashed near an elementary school playground in Pennsylvania in April, while a Reaper belonging to the air force disappeared into Lake Ontario in upstate New York in November.

The hefty Predator — arguably the best-known American military drone — was involved in 102 Class A crashes, followed by the smaller Hunter and larger Reaper models with 26 and 22 losses respectively.

The Post’s investigation comes as the Federal Aviation Administration drafts a set of regulations to govern an expected surge in the use of commercial drones in the coming years.

The United States owns about 10,000 drones, from the one-pound (0.5-kilogram) Wasp drone that combat troops can deploy in a firefight to the huge Global Hawk high-altitude reconnaissance platform.

Related Topic Tags

Related Defense, Military & Aerospace Forum Discussions

View the Original article

Comments Off on More than 400 US military drones lost in crashes: report

Filed under Defence Talk

US missile defense system strikes target in test

The Boeing-managed ground-based system intended to shield the continental United States successfully intercepted a simulated incoming missile over the Pacific Ocean for the first time Sunday, the Pentagon said.

The Ground-based Midcourse Defense (GMD) system, with a $40 billion price tag, aims to protect against long-range ballistic missiles from so-called rogue states such as North Korea and Iran. But government records show it has failed a series of tests.

President Barack Obama’s administration has announced it plans to spend about $1.3 billion on 14 more interceptors, but only if the closely-watched test was successful.

The interceptor missile was fired from Vandenberg Air Force Base in California and struck a dummy intermediate-range ballistic missile launched from the US Army’s Reagan Test Site on Kwajalein Atoll in the Marshall Islands.

“This is a very important step in our continuing efforts to improve and increase the reliability of our homeland ballistic missile defense system,” Missile Defense Agency chief Vice Admiral James Syring said in a statement.

The successful test followed the system’s failure to hit a simulated missile in five of eight previous tests since president George W. Bush’s administration launched the program in 2004.

The latest version of the warhead flown for the test contained hardware and software upgrades, according to manufacturer Raytheon.

It was the first successful intercept by Raytheon’s Exoatmospheric Kill Vehicle Capability Enhancement II, or EKV CE-II, which failed in both previous tests conducted in 2010.

“We made the fixes needed to be made from the last test, which was back in December of 2010,” Pentagon spokesman Admiral John Kirby told reporters on Friday.

He compared the test to “hitting a BB with a BB… It’s pretty significant if it works.”

“Testing is critically important to ensuring the advancement of reliable kill vehicles for the protection of the US and its allies,” Raytheon Missile Systems president Taylor Lawrence said.

Overall, the test marked the 65th successful intercept out of 81 attempts since 2001 for the Ballistic Missile Defense System, according to the Pentagon.

“This mission met several complex test objectives, including a long-duration flight time for the ground-based interceptor and high velocity closing speeds for intercept,” a “proud” Boeing said.

Related Topic Tags

Keywords:

civil war middle east images

Related Defense, Military & Aerospace Forum Discussions

View the Original article

Comments Off on US missile defense system strikes target in test

Filed under Defence Talk