Tag Archives: Cobra

Alasan Harga, Pemerintah Timbang Beli Apache, Super Cobra, atau Black Hawk

02 Oktober 2012

AH-1Z Super Cobra (photo : Militaryphotos)
JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah Indonesiatengah mempertimbangkan membeli salah satu dari tiga jenis helikopter serang untuk memperkuat Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. Ketiga jenis helikopter itu yakni Apache, Super Cobra, atau Black Hawk.
Faktor yang menjadi pertimbangan utama untuk memilih yakni harga. Hal itu terungkap dalam rapat antara pemerintah dan Komisi I DPR saat membahas anggaran 2013 di Gedung Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (1/10/2012) malam.
Hadir dalam rapat itu Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Kepala Staf TNI Angkatan Darat Pramono Edhie Wibowo, Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Soeparmo, Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Imam Sufaat, dan para petinggi TNI lainnya.
Awalnya, Ketua Komisi I Mahfudz Siddiq meminta pemerintah menjelaskan pernyataan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton bahwa Indonesiaakan membeli delapan helikopter Apache dari AS. Hal itu diungkap Hillary setelah melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa di Washington.
Masalahnya, Komisi I DPR tak tahu soal rencana pembelian Apache lantaran tidak pernah ada penyampaian dari pemerintah, baik dalam pertemuan formal maupun informal. Komisi I baru tahu setelah muncul dalam pemberitaan.
Purnomo mengatakan, pihaknya memang ingin membeli helikopter serang. Alasannya, negara-negara tetangga sudah memperkuat alutsista dengan membeli helikopter Apache. Hanya saja, menurut dia, rencana itu masih terlalu dini untuk disampaikan kepada DPR lantaran masih mempertimbangkan banyak hal, khususnya harga.
Sikorsky Black Hawk full armed (photo : Militaryphotos)
“Kami ingin bandingkan dengan beberapa jenis helikopter lain yang mungkin walaupun kemampuan dan kualitasnya lebih rendah dari Apache, tapi kita bisa dapatkan lebih (banyak),” kata Purnomo.
Edhie menambahkan, Apache menjadi prioritas pertama pihaknya. Menurut dia, sudah ada pembicaraan dengan pihak AS mengenai harga. Namun, harga yang ditawarkan berubah-ubah dari sebesar Rp 25 juta dollar AS per unit, lalu Rp 30 juta dollar AS per unit.
Belakangan, tambah Edhie, harga Apache kembali naik. Dia tak menyebut berapa harga terakhir. Akhirnya, pihaknya mencari helikoper pembanding, yakni Super Kobra. Informasi yang diterima, kata dia, harga yang ditawarkan yakni 15 juta dollar AS per unit.
Edhie mengatakan, helikopter Black Hawk menjadi pilihan terakhir. Dia tak menyebut berapa harga per unit helikopter yang dipakai dalam film Black Hawk Down itu. “Black Hawk ini dulu helikopter serbu atau angkut pasukan. Dikembangkan menjadi helikopter serang,” kata dia.
Mengapa tiga helikopter itu menjadi pilihan? Menurut Edhie, pihaknya memilih memesan dari negara lain lantaran perusahaan lokal tak lagi memproduksi helikopter serang. “Kita harus beli helikopter serang untuk perlindungan serangan darat. Andai kita melakukan gerakan pertempuran di darat, helikopter ini yang melindungi tank-tank dan pasukan kita di darat,” kata Edhie.

View the Original article

Advertisements

Leave a comment

Filed under Indonesia

Super Cobra Akan Jaga Perbatasan RI-Malaysia

Balikpapan (ANTARA News) – Selain akan dijaga dengan tank-tank Leopard 2A6, perbatasan Indonesia-Malaysia juga bakal dilengkapi satu skuadron heli tempur Bell AH-1W Super Cobra, kata Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) VI Mulawarman, Mayor Jenderal TNI Subekti.

“Kami akan tempatkan di Berau dan Nunukan,” ujarnya di Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa.

Saat ini Kodam VI Mulawarman sedang menyiapkan basis bagi skuadron heli tersebut. “Kami gunakan anggaran antara Rp17 miliar hingga Rp19 miliar untuk persiapan pangkalan skuadron heli tempur tersebut,” katanya.

Super Cobra adalah helikopter buatan Bell, Amerika Serikat (AS), dan pengembangan dari Huey Cobra yang berjaya di perang Vietnam. Persenjataannya senapan mesin Gatling 20 mm, roket Hydra, rudal Sidewinder untuk pertempuran udara, dan rudal penghancur tank Hellfire.

“Super Cobra ini adalah pilihan utama. Namun demikian, kami punya pilihan lain yang lebih bersahabat dengan keuangan, yaitu heli serbaguna Agusta Westland,” ujar mantan Asisten Perencanaan (Asrena) Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) tersebut.

Heli tempur buatan Bell itu senilai sekira 11,3 juta dolar AS (setara Rp96 miliar) per unit. Untuk komplet satu skuadron dengan 16 pesawat, maka pemerintah RI menyediakan tidak kurang dari Rp1,53 triliun. Harga tersebut belum termasuk persenjataannya.

Super Cobra berkemampuan jelajah hingga 510 km pada kecepatan maksimum 277 km per jam, kecepatan menanjak 8,2 meter per detik, dan bisa mengambang di udara pada ketinggian 3.720 meter.

Dengan berpangkalan di Nunukan yang berbatasan langsung dengan Malaysia, maka SuperCobra hanya perlu beberapa menit untuk sampai di perbatasan dan menyelesaikan misinya.

Adapun helikopter Agusta Westland nilainya lebih murah. Heli tempur Agusta Westland AW 109LUH harganya 9 juta dolar AS (setara Rp76,5 miliar) per unit, atau total Rp1,22 triliun untuk satu skuadron.

Selanjutnya, Kodam Mulawarman akan dilengkapi tiga batalyon gabungan infanteri dan artileri yang memiliki persenjataan anti tank yang dapat membidik tank dari jarak 6 km, serta sistem peluncur roket serentak (multiple launch rocket system/MLRS) Astros II buatan Brazil.

“Dengan amunisi roket aslinya, jarak tembaknya bisa mencapai 300 km, atau 70 km dengan amunisi roket lain,” jelas Subekti.

Bersama satuan tank Leopard, maka seluruh persenjataan dan personel baru ini akan tersedia secara bertahap mulai 2012. Menurut dia, akan sangat berdampak pada perimbangan kekuatan dengan negara-negara tetangga Indonesia, terutama yang berbatasan langsung di Kalimantan.

“Saat ini kita memang tidak memiliki musuh yang eksplisit, yang nyata. Tapi, setiap hari kita dilecehkan di perbatasan dengan adanya patok yang digeser-geser,” demikian Pangdam VI Mulawarman, Mayjen TNI Subekti. (T.KR-NVA)

View the Original article

Leave a comment

Filed under Indonesia

Multinational officials plan for Cobra Gold 2012

Loading ... Loading …By Air Force News Agency on Tuesday, February 15th, 2011

Thailand: Military planners from more than 24 nations are in Thailand making a plan to deal with aggressive Arcadian military forces that took over a portion of neighboring Khuistan and Free Mojave on the subcontinent of Pacifica.

The countries, timeline and scenario of the Arcadia situation are make-believe, but this staff exercise, part of Cobra Gold 2011, is as real as the 200-plus people working on just this portion of the overall event.

Participants in the STAFFEX are planning the operational exercise for Cobra Gold 2012. The plan they develop over the next two weeks will be the plan used in February 2012 when a new group of people congregate in Thailand to respond to the Arcadia situation.

The countries involved now are pretending it is November 2011, and they are writing a plan to implement on a subcontinent in the Pacific Ocean. The fictional continent is an exact geographical match of a cutout area of North America.

“We’re not going there to fight a war with Arcadia,” said Thai army Col. Suriya Eamsuro, the STAFFEX lead planner. “The plan shouldn’t be to take people and weapons out, but to deploy forces and use information operations to help Arcadia to think what they did wasn’t right, and we shouldn’t have to fight at all.”

The 25-year Thai army veteran said he is honored that Thailand is the lead nation for Cobra Gold, but he worries some of the benefits of the training will be lost in translation.

“It takes time to understand what is written and said in English,” Colonel Eamsuro said. “I worry it will affect the STAFFEX mission. Misunderstandings can be minor to major; just like what happens in a real operation.”

U.S. Marine Corps Maj. Vince Koopmann, the coalition lead planner for Cobra Gold, said building partnerships is more important than the final product produced at the STAFFEX.

“The fact that we come from varying services, backgrounds and unique experiences should not be viewed as an impediment to our success, but melded to leverage the collective expertise of our cohesive multinational force team,” Major Koopman said. “The most important aspect of CG 2011 isn’t the products we produce, but the relationships we build between our multinational partners.”

Lt. Col. Adrian Kinimaka, of STAFFEX Air Force Forces, said this is his first Cobra Gold, and he is still learning from other members of his section who have been to this exercise in years past.

“At this level, what I’ve seen is willingness to learn from each other,” he said. “The United States has a lot to offer. Our partners are receptive and are taking initiative to work with us in certain key areas.”

The outcome of the Arcadia situation won’t be known for about year because the scenario won’t be implemented until February 2012.

The nations gathered will develop a plan that will eventually bring peace and stability to entire Pacifica region, Colonel Eamsuro said. Friendships built now will also pay big dividends if the nations involved ever have to respond to a real crisis.

CG 2011 is the 30th time multinational forces have gathered in Thailand for this exercise. The annual Thai and United States co-sponsored joint and multinational event includes Thailand, the United States, Indonesia, Japan, Korea, Malaysia and Singapore as participating nations. In addition, representatives from 18 multinational planning augmentation team nations and observer nations include Cambodia, China, Italy, Russia and South Africa.


View the original article here

Leave a comment

Filed under Defence Talk